Pernahkan anda menunggu atau mendampingi keluarga, famili, tetangga atau orang lain yang sedang sakkaratul maut?
Tentunya pernah, lantas apa yang anda perbuat? Apakah cukup diam membisu atau menangis tersedu-sedu?
Bila kita berada di tengah-tengah seseorang yang sedang sakkaratul maut, dianjurkan kita melakukan beberapa hal, yaitu : Menghadapkan orang tersebut ke kiblat dengan tiga cara, yaitu kepala dihadapkan ke utara dan kaki ke selatan dengan miring ke kanan seperti orang dalam kubur; kaki dihadapkan ke barat dan kepala ke timur dengan diangkat mukanya ke arah barat; kepala dihadapkan ke selatan dan kaki ke utara dengan miring ke kiri.
Dianjurkan orang tersebut agar berwasiat mengenai hartanya ke masjid, madrasah, panti asuhan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta kekayaannya. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abu Qaradah juga oleh Hakim bahwasanya tatkala Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau menanyakan Parra bin Ma’rur. Kata mereka, ia sudah wafat dan mewasiatkan sepertiga hartanya untuk engkau, juga agar ia dihadapkan ke kiblat sewaktu hendak meninggal. Maka Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tepat menurut ajaran agama Islam”.
Diajarkan orang yang sedang sakkaratul maut membaca, “Laa ilaaha illallaah”. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, bahwasanya Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ajarilah orang-orangmu yang akan meninggal membaca,‘Laa ilaaha illallaah’. Dan selanjutnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Mu’az bin Jabal bahwasanya Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa-siapa yang ucapan terakhirnya ‘Laa ilaaha illallaah’, ia akan masuk syurga”. Hadits dimaksud jangan ditafsirkan menjadi murah untuk masuk syurga, karena orang yang sedang sakkaratul maut sangat sulit membaca “Laa ilaaha illallaah”, karena pada saat itu sakitnya berlipat ganda, mana ingat membacanya, mungkin tidak pernah mengerjakan sholat sejak hidupnya, atau pernah melakukan dosa besar dan belum bertaubat, sehingga menjadi penghambat untuk mengucapkan “Laa ilaaha illallaah” saat sakkaratul maut.
Dibacakan surat Yaa –sin di dekat orang yang sedang menghadapi sakkaratul maut. Dari Ma’qil bin Yasar bertaka bahwasanya Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacakanlah olehmu terhadap orang yang akan meninggal dunia surat Yaa-sin”. Dari Abi Marda’ berkata bahwasanya Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiadalah bagi sesorang yang akan meninggal yang dibacakan surat Yaa-sin, keculai dimudahkan Allah kematiannya” (HR Shohibul Firdaus).
Setelah diketahui orang tersebut telah menghembuskan nafas terakhirnya, dianjurkan kepada yang berada di sekitar si mayit untuk melakukan : Memejamkan matanya dan merapatkan mulutnya yang terbuka, sambil mendoakannya. Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam datang melawat Abu Salamah didapatinya matanya terbuka, maka ditutupkannya. Kemudian sabdanya, “Jika nyawa seseorang dicabut, maka diikuti oleh pandangannya”. Tiba-tiba kedengarana suara ribut diantara keluaga, maka Nabi bersabda, “Janganlah kamu mengucapkan terhadap dirimu, kecuali yang baik, karena malaikat-malaikat akan turut mengaminkan apa yang kamu ucapkan”. Lalu, doanya, “Ya Allah, berilah keampunan bagi Abu Salamah dan tinggikan derajatnya di lingkungan orang-orang yang memperoleh petunjuk, danangkatlah penggantinya di kalangan anak cucunya yang tinggal, serta berilah keampunan bagi kami dan baginya, wahai Tuhan Robbul ‘alamiin dan berilah kelapangan baginya dalam kuburnya dan terangilah ia dengan cahaya” (HR Muslim dari Ummu Salamah).
Menyelimuti si mayit dengan kain yang bagus agar wajahnya yang mungkin berubah sewaktu sakkaratul maut tidak menjadi tontonan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Bukhari dan Muslim bahwasanya Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau wafat, jasadnya ditutupi dengan selimut dari Yaman.
Diperkenankan mencium si mayit oleh keluarganya. Dari ‘Aisyah berkata bahwasanya Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah mencium Utsman bin Madh’un sewaktu meninggalnya, sehingga aku melihat air mata mengalir di atas wajahnya” (HR Ahmad).
Memberitahukan kematiannya kepada keluarga yang dekat dan handai taulan. Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya sesungguhnya Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada para sahabatnya mengenai kematian Hajasyi diharinya dia meninggal dunia” (HR Bukhari dan Muslim).
Menyegerakan untuk menyelesaikan hutang piutang si mati. Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nyawa orang mukmin itu tergantung pada hutangnya sampai dibayar terlebih dahulu” (HR Ahmad, Ibnu Mjah dan Tirmidzi). Maksud hadits ini bahwa terhalangnya si mayit mendapatkan kebahagiaan atau terhalang untuk masuk syurga apabila mampu membayar hutang, namun tidak berniat untuk membayarnya, itulah orang yang terhalang.
Dalam hadits yang lain diterangkan dari Salamah bin Akwa’ mengatakan bahwasanya pernah kami duduk di sisi Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu didatangkan jenazah, mereka bertanya, “Ya Rosulullah sholatilah dia”. Beliau bertanya, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Apakah dia mempunyai hutang?”. Mereka menjawab, “Tiga dinar”. Nabi bersabda, “Sholatilah oleh kamu, dia sahabat kamu”. Abu Qotadah berkata, “Sholatilah, ya Rosulullah dan saya yang menjamin hutang-hutangnya”. Maka Rosulullah mensholatinya. (HR Ahmad dan Bukhari). Hadits ini menjadi petunjuk bagi kita, bahwa sebelum si mayit disholati terlebih dahulu ahli waris menyampaikan jaminan akan membayar hutang-hutang si mati.
Kita diperintahkan untuk segera menguburkannya, namun sebelum dikubur kita diwajibkan memandikan, mengkafani, mensholatinya, mengantar ke kubur dan menguburkannya.
Itulah pokok-pokok yang dilakukan apabila menghadapi orang yang sedang sakkaratul maut ...
Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....
Marilah Setiap detak-detik jantung..,
selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...
Vicky
Zawiyah Sirul Barokah
Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik .